Tawangmangu  – Sebuah bus pariwisata medium PO Solaris Jaya bernomor polisi K 1677 CD terperosok terjun ke jurang sedalam 10 meter di  Dusun Banaran, Desa Gondosuli, Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, Minggu (26/2/2017) sekitar pukul 10.30WIB

jasabuspariwisata-kecelakaan-maut-bus-pariwisata-di-tawangmangu

jasabuspariwisata-kecelakaan-maut-bus-pariwisata-di-tawangmangu

 

Bus yang dikemudikan Suyitno membawa 29 orang keluarga besar SDN Jimbaran Wetan, Wonoayu, Sidoarjo. Mereka baru saja menikmati hawa sejuk Telaga Sarangan, Magetan, dan berencana meneruskan perjalanan ke Grojogan Sewu, Tawangmangu, dalam rangka perpisahan Kepala SDN Jimbaran Puji Haryanto, 60.

Hal tersebut disampaikan Kasatlantas Polres Karanganyar, AKP Ahdi Rizaliansyah, kepada wartawan di Puskesmas Tawangmangu.

Sebanyak tujuh penumpang meninggal dalam kecelakaan tersebut. Mereka antara lain Suwandi, warga Wonokasian RT 6 RW 2, Wonoayu, Sidoarjo, Jatim; Ica Susilowati, 23 tahun (anak Suwandi); Ria Resbara, warga Sidoarjo, Jatim dan; Dra Hj Zuhro, Ketimang RT 7 RW 2 Wonoayu, Sidoarjo, Jatim. Tujuh Korban meninggal dunia selanjutnya dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Karanganyar. Petugas yang datang sangat kesulitan untuk mengevakuasi para korban karena medan yang sulit. Selain itu kondisi bus ringsek dan terbalik. Evakuasi korban mengalami hambatan serius karena lokasinya berada di jurang.

Rem blong

“Kecelakaan (bus pariwisata) ini terjadi karena mengalami rem blong,” katanya AKP Ahdi Rizaliansyah.

Diduga karena rem blong, laju bus tak terkendali ketika melintasi turunan tajam dengan kemiringan sekitar 35 derajat. Penumpang semakin histeris saat bus menabrak tiang listrik, lalu terjun ke jurang Sungai Banaran sedalam 10 meter.

Bodi bus tersangkut tebing dengan posisi terbalik. Para penumpang terpental dari tempat duduknya. Ada yang terjepit kursi dan bodi bus. Barang bawaan mereka berhamburan ke sungai.

Kasatlantas Polres Karanganyar AKP Ahdi Rizaliyansyah mengungkapkan, berdasar hasil pemeriksaan, bus melaju dari arah Gondosuli dalam kondisi rem blong dengan kecepatan 60-80 kilometer per jam.

“Bus keluar jalur, lalu masuk jurang. Dua penumpang meninggal di lokasi.

Dia menambahkan, lokasi kejadian termasuk rawan kecelakaan lalu lintas. Kendaraan besar, terutama bus, tidak disa­rankan melintasi jalur lama tersebut. “Kendaraan besar yang dari atas (Magetan, Red) selalu kami arahkan untuk melintas di jalur tembus baru,” terangnya.

Lalu, kenapa sopir bus nekat melintas? Kasatlantas menuturkan, ada permintaan salah seorang penumpang. “Sopir sudah berniat melintas di jalur baru. Tapi, ada penumpang yang meminta lewat jalur lama,” ungkap Ahdi.